PENGUSAHA.CO.ID

Ruang Rapat Penuh Ide, Tapi Omzet Tak Bergerak? Kang Apik Ungkap Kesalahan yang Sering Dilakukan Pengusaha

 

Ruang Rapat Penuh Ide, Tapi Omzet Tak Bergerak? Kang Apik Ungkap Kesalahan yang Sering Dilakukan Pengusaha


CIREBON – Mengapa banyak bisnis memiliki rencana yang hebat, tetapi hasilnya tidak pernah sehebat rencananya?

Pertanyaan itu mengawali obrolan kami dengan praktisi bisnis dan branding, Kang Apik, yang selama bertahun-tahun mendampingi pelaku UMKM, perusahaan, hingga organisasi di berbagai daerah. Menurutnya, kegagalan sebuah bisnis sering kali bukan karena kurang pintar menyusun strategi, melainkan karena terlalu lemah dalam menjalankan strategi tersebut.

"Setiap bulan saya melihat ruang rapat penuh dengan ide-ide luar biasa. Targetnya tinggi, presentasinya menarik, bahkan slide-nya dibuat sangat profesional. Sayangnya, setelah rapat selesai, banyak yang kembali bekerja seperti biasa. Tidak ada perubahan yang benar-benar dijalankan," ujarnya sambil tersenyum.

Menurut Kang Apik, penyakit yang paling sering menyerang dunia usaha adalah terlalu banyak mengejar tujuan dalam waktu bersamaan. Akibatnya, tenaga, waktu, dan biaya habis terbagi ke banyak arah, tetapi tidak ada satu pun yang benar-benar mencapai hasil maksimal.

"Kalau hari ini ingin membuka cabang, besok membuat produk baru, lusa mengejar pasar digital, minggu depan ingin ekspor, akhirnya semuanya berjalan setengah hati. Bisnis membutuhkan prioritas, bukan sekadar daftar keinginan," jelasnya.

Ia mencontohkan sebuah distributor produk rumah tangga yang ingin meningkatkan penjualannya dalam beberapa bulan. Alih-alih membuat puluhan program sekaligus, perusahaan tersebut memilih satu sasaran utama, lalu mengarahkan seluruh tim untuk bekerja menuju tujuan yang sama.

Namun, menurut Kang Apik, menentukan sasaran saja belum cukup.

"Jangan hanya bertanya, 'Mengapa penjualan belum naik?' Pertanyaan yang lebih penting adalah, 'Hari ini kita sudah melakukan apa agar penjualan naik?'"

Baginya, aktivitas harian jauh lebih menentukan dibanding sekadar memantau hasil akhir. Menambah jumlah kunjungan ke pelanggan, memperbanyak prospek baru, mempercepat tindak lanjut, hingga memperkuat promosi merupakan tindakan nyata yang bisa dikendalikan setiap hari.

Dengan gaya khasnya yang santai, ia pun berkelakar,

"Kalau aktivitasnya tidak berubah, tapi berharap hasilnya berubah, yang bekerja bukan strategi, tapi imajinasi. Kalau cuma rebahan sambil berharap omzet naik, kemungkinan yang naik malah tagihan listrik."

Kang Apik juga menekankan pentingnya setiap anggota tim mengetahui perkembangan pencapaian perusahaan. Menurutnya, target tidak boleh hanya diketahui oleh pimpinan.

"Semua orang harus tahu posisinya. Kalau target minggu ini seratus, tetapi baru tercapai delapan puluh lima, berarti semua sadar masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Angka-angka sederhana seperti itu justru membangun semangat tim."

Hal lain yang sering disalahartikan, lanjutnya, adalah rapat evaluasi. Banyak perusahaan menjadikan evaluasi sebagai ajang mencari siapa yang salah, padahal seharusnya menjadi forum untuk menemukan solusi.

"Evaluasi bukan ruang sidang. Tidak perlu mencari kambing hitam. Yang dibutuhkan adalah keberanian mengakui kekurangan, memperbaiki cara kerja, lalu bergerak lebih baik pada minggu berikutnya."

Menurut Kang Apik, perusahaan yang bertumbuh biasanya memiliki kebiasaan sederhana namun dilakukan secara disiplin. Mereka fokus pada tujuan yang jelas, memastikan setiap orang menjalankan aktivitas yang mendukung tujuan tersebut, memantau perkembangan secara terbuka, lalu melakukan perbaikan tanpa henti.

"Kesuksesan bisnis bukan ditentukan oleh siapa yang paling pandai membuat rencana. Kesuksesan datang kepada mereka yang mau melakukan pekerjaan kecil secara konsisten, setiap hari, tanpa bosan."

Menutup perbincangan, Kang Apik menyampaikan pesan yang layak menjadi renungan bagi setiap pelaku usaha.

"Jangan bangga karena memiliki rencana yang hebat. Banggalah ketika tim Anda mampu mengeksekusi rencana itu dengan disiplin. Sebab di dunia bisnis, kemenangan bukan milik yang paling banyak bicara, tetapi milik mereka yang paling konsisten bekerja."