*Dirujak Karena Berani Beda, Kini Diburu Pasar: Rahasia UMKM yang Tak Lagi Jualan Harga*
_Kang Apik – KOMUNET Indonesia_ www.komunikasi.net
Awalnya ditertawakan.
Dibilang terlalu idealis.
Disebut “kebanyakan teori”.
Tapi hari ini, pendekatan itu justru membuat banyak pelaku UMKM naik kelas.
Saya membaca pemikiran dari Postingan _Deryansha_ yang mengangkat satu kalimat sederhana namun menohok:
> UMKM yang fokus menjual value, bukan sekadar produk, akan lebih cuan.
Kalimat ini terdengar biasa.
Tapi dampaknya luar biasa.
_Fakta di Lapangan: UMKM Paling Sering Jatuh di Lubang yang Sama_
Di berbagai kota—termasuk Cirebon dan sekitarnya—saya melihat pola yang sama:
- Begitu ada pesaing baru, harga langsung diturunkan.
- Begitu ada promo kompetitor, ikut-ikutan diskon.
- Begitu ada tekanan pasar, margin dikorbankan.
Hasilnya?
Omzet naik, tapi keuntungan tipis.
Ramai pembeli, tapi usaha terasa stagnan.
Masalahnya bukan pada produk.
Masalahnya ada pada cara berpikir.
_Publik Tidak Lagi Membeli Barang_
Hari ini konsumen tidak sekadar membeli:
Ayam goreng, Kopi literan, Laundry kiloan, Sembako murah
Mereka membeli:
Rasa aman
, Kebersihan, Kepercayaan, Kenyamanan, Identitas
Satu warung bisa jual nasi sama-sama Rp15.000.
Tapi yang bersih, pelayannya ramah, tempatnya rapi, dan komunikasinya jelas—akan selalu lebih dipilih.
Itulah value.
_Kenapa Brand Besar Tidak Pernah Perang Harga?_
Brand global seperti Apple atau Rolex tidak pernah sibuk menjelaskan kenapa mereka mahal.
Karena mereka tidak menjual barang.
Mereka menjual persepsi, kualitas, dan kebanggaan.
UMKM memang tidak perlu meniru skalanya.
Tapi pola pikirnya wajib meniru.
Di sesi Training KOMUNET Indonesia, saya selalu sampaikan:
> “Kalau kamu hanya jual produk, kamu mudah digantikan.
Kalau kamu jual nilai, kamu sulit dikalahkan.”
Nilai itu bukan hal abstrak.
Nilai itu konkret.
Nilai itu ketika:
- Dapur terlihat bersih dan tertata.
- Pelanggan dipanggil namanya.
- Komplain diselesaikan, bukan dihindari.
- Produk konsisten kualitasnya.
- Toko punya cerita, bukan sekadar etalase.
UMKM yang serius membangun nilai akan pelan-pelan keluar dari jebakan perang harga.
_Kenapa Banyak UMKM Takut Naik Kelas?_
Karena ada ketakutan klasik:
“Kalau saya naikkan harga, nanti pembeli kabur.”
Padahal yang kabur biasanya bukan pelanggan setia.
Yang kabur adalah pemburu harga.
Dan pemburu harga tidak pernah loyal.
UMKM harus memilih:
Mau dikejar pemburu diskon?
Atau dihormati karena kualitas?
_Saatnya UMKM Indonesia Berani Berubah_
Kita punya potensi luar biasa.
Produk bagus.
Rasa enak.
Kerja keras tinggi.
Yang kurang sering kali hanya satu: positioning.
Kalau UMKM mulai membangun standar pelayanan, branding, kebersihan, dan diferensiasi, maka kita tidak lagi bersaing di harga—kita bersaing di nilai.
Dan ketika nilai naik,
harga akan mengikuti.
Banyak pelaku usaha mengejar cuan.
Padahal cuan itu hasil.
Yang harus dibangun adalah:
Sistem, Standar, Value, Kepercayaan
Ketika kepercayaan tumbuh,
pasar tidak perlu dikejar—
pasar akan datang.
Dirujak karena berani beda itu biasa.
Yang luar biasa adalah tetap konsisten membangun nilai.
Dan sejarah selalu berpihak pada mereka yang membangun kualitas, bukan yang sibuk menurunkan harga.
Kang Apik juga merupakan Ketua LP UMKM PDM Kabupaten Cirebon sekaligus Korda Serikat Usaha Muhammadiyah Kabupaten Cirebon
